Seperti angin, mereka pun asyik dalam kebisuan.
Hanya dengan nafas yang sesekali terhempas dari mulut masing-masing yang jadi pertanda kedua makhluk yang saling duduk bersebrangan itu bukan patung.
Tapi dua makhluk hidup yang sedang diselimut kegalauan "Din, Wini minta maaf Tadi sore dia ke rumahku, minta tolong menyampaikan maaffnya padamu.
Kamu masih marah sama dia?" Heri berinisiatif membuka suara Bosan juga karena sejak tadi cuma disuguhi sikap diam Dina.
adalah suatu kehkilafan? Karena me beg selalu ganggu kami?" Win, bukankah dulu kita sudah sepakat untuk menganggap apa yang kita lakukan mang itu khan adanya.
Tapi kenapa kamu "Her, cukup!" Wini menutup kupingnya seiring gelengan keras.
Aku tahu, aku ngerti.
Aku juga sudah mencoba menganggap semua itu hanya sebuah kekhilafan.
Aku ikhlas Her, asal hubunganmu dengan Dina tetap berjalan.
"Di dalam sini tak bisa berbohong, aku sayang kamu! Cuma aku sadar rasa itu datang tidak tepat.
Seperti katamu juga khan? Dina memang lebih berhak untuk kamu cintai.
Tapi.
Wilinn!" Serta merta diraihnya tubuh mungil itu dalam rengkuh pelukan Heri.
la sebenarnya lebih mengerti, di dasar hatinya rasa itu sudah lama terbagi.
Untuk Dina dan untuk Wini sahabat .Dina.
Aneh me- mang, tapi ia sendiri tak bisa memung kirinya.
tutusnya.
Tapi dari Wini rasa itu timbu sering berbagi.
Tapi rasanya tak minig 72 Dengan Dina cinta itu ada dengan begitu saja seiring kedekatan dan mereka ingkin diri bersama manis itu menampaan sipunya senyum Dina tuh, ditanyain Ryan.
Katanya tugas kelompok yang tadi tuh di minta Pak Andi buat dikumpulkan.
Yang punya kelom- pok ku sudah tadi.
Tinggal punya kelom pokmu dan kelompok Parhan.
Makanya aku nyari kamu," terangnya lancar "Lho, khan sudah di Arul.
Ryan juga tahu," Dina cemberut.
Seperti kemarin, ia nyelonong dan kemu dian dengan seenaknya ngajak ngobrol ngalor-ngidul tanpa menghiraukan pera saan Dina yang merasa diabaikan.
Sering sekali Wini nimbrung kalo mereka sedang berduaan.
Sepertinya tak di sengaja, tap buat Dina kelakuannya mengganggu se Sepertinya ia selalu mencuri kesempatan dengan halus untuk menciptakan keta tentraman k- "Tapi Ryan bilang …." Kenapa nggak Ryannya yang menc kesini? Kenapa selalu kamu sih? encariku Din!" Wajah itu mendongak refleks me nyiratkan semu pias.
Tak enak hati a omongan Dina yang meningg1.
sep rti baru tersadar kelepasa Dina juga Sial.
Mentang mentang body kamu ke- jangkungan Her.
Eh.
group mana yang me nang?" Chicago bulls kali," Heri nyengir seraya menarik kursi di depan Dina.
"Kirain Persib," timpal Wini nggak kalah tulalit.
Bagas yang tadi nguntit Heri ikutan ngakak.
"Sudah belum ngebaksonya Din?" itu cuma basa-basi.
Tahu sendiri diatas meja, mangkok Dina sudah kosong dengan ten- tram dan damai.
"Belum dua mangkok.
Ya Din?" Sabot Wini enteng saat Dina hampir membuka mulutnya.
Huh, ada keluh dalam hati.
Dia selalu merecoki.
Dulu Dina tak akan mera- sakan apa-apa, malah senang aja ada temen ngobrol kalau sedang jalan rame-rame bareng gang Heri.
Tapi kini? Entahlah.
Rasanya Dina sedikit tak rela.
"Rese deh lo.
Pindah yuk Din, disini a perusuh," Heri menarik tangan Dina me- ngajak pergi seraya masih mencandai Wini yang mencibiri Heri, cuek.
Kamu diem melulu, kenapa Masa aku mesti jingkrak-jingkra Jawab Dina ketus.
Saat itu mekan duduk di taman belakang ruang guru ka sudal Kalau dulu gambar diri Wini begitu ben terpancar dalam masing masing.
Tapi ki keberadaan mereka berbelit tak mener menciptakan kekusutan yang membingur kan tu Lantas mestikah Dina tetap menyimpan akit hati dan tetap mencari biang dari segala ketakmenentuan ini di saat mereka sudah saling melupakan.
Tapi bukan tak puas jika sampai sekarang Dina tetap merasa ada yang tak pemah beres pada hubungannya Sudah sering ia tepis peristiwa pahit dan seperti kata Heri ia ingin meniti kembali jembatan kasih ini dengan langkah langakah baru.
Andaipun pemah ada masa lalu tak perlu di toleh dua kali.
Sudah sering Dina coba, tapi tanpa sengaja bayangain melintas begitu saja.
Seperti tadi misalnya, saat mereka ten asyik memadu kasih.
Saat cowok ittu menciumnya tiba-tiba melintas ken peristiwa itu ketika memeluk dan asyi bercumbu dengan Wini di rumah He menyaksikan perselingkuhan keka ngan sahabat dekatnya itu dengan kepala sendiri.
Sakit selkali, hancu tenga ali Heri.
untuk perasaan khan? Padahal dari dulu perasaan yang ada di hati gue belum pernah , terbagi.
Kecemburuan to nggak beralasan.
Lo kira gue suka dengan cewek-cewek yang selalu agresif mengejar cinta gue? Nggak, gue nggak pernah suka.
Hanya dengan nafas yang sesekali terhempas dari mulut masing-masing yang jadi pertanda kedua makhluk yang saling duduk bersebrangan itu bukan patung.
Tapi dua makhluk hidup yang sedang diselimut kegalauan "Din, Wini minta maaf Tadi sore dia ke rumahku, minta tolong menyampaikan maaffnya padamu.
Kamu masih marah sama dia?" Heri berinisiatif membuka suara Bosan juga karena sejak tadi cuma disuguhi sikap diam Dina.
adalah suatu kehkilafan? Karena me beg selalu ganggu kami?" Win, bukankah dulu kita sudah sepakat untuk menganggap apa yang kita lakukan mang itu khan adanya.
Tapi kenapa kamu "Her, cukup!" Wini menutup kupingnya seiring gelengan keras.
Aku tahu, aku ngerti.
Aku juga sudah mencoba menganggap semua itu hanya sebuah kekhilafan.
Aku ikhlas Her, asal hubunganmu dengan Dina tetap berjalan.
"Di dalam sini tak bisa berbohong, aku sayang kamu! Cuma aku sadar rasa itu datang tidak tepat.
Seperti katamu juga khan? Dina memang lebih berhak untuk kamu cintai.
Tapi.
Wilinn!" Serta merta diraihnya tubuh mungil itu dalam rengkuh pelukan Heri.
la sebenarnya lebih mengerti, di dasar hatinya rasa itu sudah lama terbagi.
Untuk Dina dan untuk Wini sahabat .Dina.
Aneh me- mang, tapi ia sendiri tak bisa memung kirinya.
tutusnya.
Tapi dari Wini rasa itu timbu sering berbagi.
Tapi rasanya tak minig 72 Dengan Dina cinta itu ada dengan begitu saja seiring kedekatan dan mereka ingkin diri bersama manis itu menampaan sipunya senyum Dina tuh, ditanyain Ryan.
Katanya tugas kelompok yang tadi tuh di minta Pak Andi buat dikumpulkan.
Yang punya kelom- pok ku sudah tadi.
Tinggal punya kelom pokmu dan kelompok Parhan.
Makanya aku nyari kamu," terangnya lancar "Lho, khan sudah di Arul.
Ryan juga tahu," Dina cemberut.
sep rti baru tersadar kelepasa Dina juga Sial
Dalam pikirnya Wirni cuma cari kesempatan buat mengganggu.Seperti kemarin, ia nyelonong dan kemu dian dengan seenaknya ngajak ngobrol ngalor-ngidul tanpa menghiraukan pera saan Dina yang merasa diabaikan.
Sering sekali Wini nimbrung kalo mereka sedang berduaan.
Sepertinya tak di sengaja, tap buat Dina kelakuannya mengganggu se Sepertinya ia selalu mencuri kesempatan dengan halus untuk menciptakan keta tentraman k- "Tapi Ryan bilang …." Kenapa nggak Ryannya yang menc kesini? Kenapa selalu kamu sih? encariku Din!" Wajah itu mendongak refleks me nyiratkan semu pias.
Tak enak hati a omongan Dina yang meningg1.
sep rti baru tersadar kelepasa Dina juga Sial.
Mentang mentang body kamu ke- jangkungan Her.
Eh.
group mana yang me nang?" Chicago bulls kali," Heri nyengir seraya menarik kursi di depan Dina.
"Kirain Persib," timpal Wini nggak kalah tulalit.
Bagas yang tadi nguntit Heri ikutan ngakak.
"Sudah belum ngebaksonya Din?" itu cuma basa-basi.
Tahu sendiri diatas meja, mangkok Dina sudah kosong dengan ten- tram dan damai.
"Belum dua mangkok.
Ya Din?" Sabot Wini enteng saat Dina hampir membuka mulutnya.
Huh, ada keluh dalam hati.
Dia selalu merecoki.
Dulu Dina tak akan mera- sakan apa-apa, malah senang aja ada temen ngobrol kalau sedang jalan rame-rame bareng gang Heri.
Tapi kini? Entahlah.
Rasanya Dina sedikit tak rela.
"Rese deh lo.
Pindah yuk Din, disini a perusuh," Heri menarik tangan Dina me- ngajak pergi seraya masih mencandai Wini yang mencibiri Heri, cuek.
Kamu diem melulu, kenapa Masa aku mesti jingkrak-jingkra Jawab Dina ketus.
Saat itu mekan duduk di taman belakang ruang guru ka sudal Kalau dulu gambar diri Wini begitu ben terpancar dalam masing masing.
Tapi ki keberadaan mereka berbelit tak mener menciptakan kekusutan yang membingur kan tu Lantas mestikah Dina tetap menyimpan akit hati dan tetap mencari biang dari segala ketakmenentuan ini di saat mereka sudah saling melupakan.
Heri dan Wini s rius sekali dengan kata kata maafnya
Heri dan Wini s rius sekali dengan kata kata maafnya.Tapi bukan tak puas jika sampai sekarang Dina tetap merasa ada yang tak pemah beres pada hubungannya Sudah sering ia tepis peristiwa pahit dan seperti kata Heri ia ingin meniti kembali jembatan kasih ini dengan langkah langakah baru.
Andaipun pemah ada masa lalu tak perlu di toleh dua kali.
Sudah sering Dina coba, tapi tanpa sengaja bayangain melintas begitu saja.
Seperti tadi misalnya, saat mereka ten asyik memadu kasih.
Saat cowok ittu menciumnya tiba-tiba melintas ken peristiwa itu ketika memeluk dan asyi bercumbu dengan Wini di rumah He menyaksikan perselingkuhan keka ngan sahabat dekatnya itu dengan kepala sendiri.
Sakit selkali, hancu tenga ali Heri.
untuk perasaan khan? Padahal dari dulu perasaan yang ada di hati gue belum pernah , terbagi.
Kecemburuan to nggak beralasan.
Lo kira gue suka dengan cewek-cewek yang selalu agresif mengejar cinta gue? Nggak, gue nggak pernah suka.
Comments
Post a Comment