Tiba- merebak.
Mungkin prihatin.
Mungkin ne langsa.
Sebongkah tanya yang bergemu dalam dasar dada hanya berawal dengat kenapa?" Tandas Gil tak menemlka wabannya.
rul th ja Gil.
Reno yang inisiatif buka suara.
Sudah lama gue tahu kalau Rani termasuk cewek ayam kampus!" Gil berpaling menatapnya.
itu sedang tak apel pula ka Rani telpon akan mengantar neneknya nginep di salah satu rumah anaknya yang lain.
Terpaksa malam Minggu ini kembali di lewatkan Gil dengan berangin-angin sambil godain cewek-cewek lewat.
Cuek sekali dia.
Membaur dengan rombongan group motor antik yang memamerkarn motornya dengan di parkir berjajar di pinggir jalan.
rena sore tadi Salah satu yang membawa motor antik itu Roy, adik kelas Gil di es-em-a dulu.
Asyik juga punya temen ngobrol sclain trico wek wek itu.
Sekolah dimana lo sekarang Roy?" Baru masuk Gil.
Cuma ngambil pro- gram diploma saja.
Nggak kayak elo mau jadi om sarjana pakar apaan?" "Pakar cewek!" Gil tergelak.
"Ehh Gil! Hapa kabarnya Belum sempet selesai ketika Gil melemparkan topik ke arah lain.
"Lo udah lama pacaran ama belalang antik ini?" la menunjuk motor Honda antik Roy.
Gitu pun Roy sudah ngerti Gil tak ingin membicarakan sesuatu yang datang dari masa lalunya.
Obrolan dengan Roy terhenti saat mata Gil tak sengaja menubruk sesosok semam ah, jangan kira kuping gue udak Cuma gue males jawab!" "Kenapa?" Reno tetep serius.
Pertanyaannya berat.
Lo kayak pak Naib yang man ngawinin gue deh Bukannya gitu Gil, gue lihat kavaknva nempel banget sama si Rani Ya..
namaya juga usaha!" Gil nyengir lagi, cuek.
Nggak berarti lo serius khan?" Desakan pertanyaan Reno membuat pandang Gil lurus-lurus terarah padanya Ada apaan muka gile sok serius gitu? ketakutan nggak punya temen yang tetep sihgle fighter seperti dirinya kali.
Lagi- lagi..
Gil nyengar-nyengir cuek.
Serius atau nggaknya tergantung Ren.
Kalo pengen cipokin dia ya serius.
Kalo sambil ketawa-ketawa ya nggak konsen dong.
Tapi yang lo maksud pacaran se rius? nggak tahu juga.
sendiri gue masih generasi tidak mapan.
Bagi gue, pacaran itu hanya untuk selingan dan penawar kejenuhan saja.
Belum kepikiran buat ngajak kawin Rani.
lo tahu Seperti ada kelegaan di wajah Reno begitw mendengar keterangan Gil.
"Oke deh! Kita bicara yang lain saja ya Atau..
jangan ngomong saja deh ya? "Emang mau ngapain?" Rani kura tanggap rupanya.
Gil nyengir.
Ia memdekatkan wajahnya ke wajah Rani.
"Mau ini" Belum sempat menjawab nafas Gil yang panas terhempas begitu dekat seiring bibin cowok itu melumat melumat lembut bibir Rani.
Cewek cantik itu mengimbanginya juga hingga keasyikan mereka semakin terumbar bersama dengan nafas-nafas yang sesekali terhempas.
Rani tak sedikit pun memberi penolakan atau hambatan.
Maka kebebasan untuk Gilang melakukan petualangannya menje- lajahi gunung-gunung yang membuatnya seakan diterbangkan ke awan biru.
Indah sekali membuat Gilang ingin terus dan terus menerbangkan angannya sampai titik akhir Tapi Gilang selalu mampu menguasai, Ketika tinggal selangkah lagi mendobrak benteng pertahanan Rani ia cepet tersadar dan menyudahi semuanya.
Seiring waan nya yang terangkat, sisa-sisa sensasi yang masih terasa membuat dengus nafasnya Rani.
sekali terhempas keras.
Begitu pun dengan Mata gadis itu kuyu dan letih, payah dia.
kian berkecamuk, tentang kebersamaan yang manis dengan Rani.
ka Rani… Panggil Gil lirih.
Lurus ta- tapannya menjelajahi setiap lekuk indah dari wajah nyaris sempurna di depannya itu.
Saat itu mereka tengah berduaan di beranda rumah sederhana milik orangtua Rani.
Sedang di dalam, bapak ibu Rani tengah anteng menonton siaran tele- visi.
Ya, sama-sama anteng lah.
Ya?" Wajah manis itu tengadah mem- balas tatapnya.
Kamu cantik!" Gilang mulai meng gombal.
Wajah manis itu tersipu.
Menyi- sakan rona merah dadu yang menyapu tipis dipermukaan wajahnya.
Membuat Gil ma kin gemes.
Duduk Gil semakin merapat mencari ke hangatan dengan bersentuhan.
Di dekap nya tubuh gadis itu seraya terus ajaknya cerita.
Dari soal mata kuliah, dose galak sampai ke pemilihan ketua Senat yang sudah berlangsung Minggu kemarin.
Mungkin prihatin.
Mungkin ne langsa.
Sebongkah tanya yang bergemu dalam dasar dada hanya berawal dengat kenapa?" Tandas Gil tak menemlka wabannya.
rul th ja Gil.
Reno yang inisiatif buka suara.
Sudah lama gue tahu kalau Rani termasuk cewek ayam kampus!" Gil berpaling menatapnya.
itu sedang tak apel pula ka Rani telpon akan mengantar neneknya nginep di salah satu rumah anaknya yang lain.
Terpaksa malam Minggu ini kembali di lewatkan Gil dengan berangin-angin sambil godain cewek-cewek lewat.
Cuek sekali dia.
Membaur dengan rombongan group motor antik yang memamerkarn motornya dengan di parkir berjajar di pinggir jalan.
rena sore tadi Salah satu yang membawa motor antik itu Roy, adik kelas Gil di es-em-a dulu.
Asyik juga punya temen ngobrol sclain trico wek wek itu.
Sekolah dimana lo sekarang Roy?" Baru masuk Gil.
Cuma ngambil pro- gram diploma saja.
Nggak kayak elo mau jadi om sarjana pakar apaan?" "Pakar cewek!" Gil tergelak.
"Ehh Gil! Hapa kabarnya Belum sempet selesai ketika Gil melemparkan topik ke arah lain.
"Lo udah lama pacaran ama belalang antik ini?" la menunjuk motor Honda antik Roy.
Gitu pun Roy sudah ngerti Gil tak ingin membicarakan sesuatu yang datang dari masa lalunya.
Obrolan dengan Roy terhenti saat mata Gil tak sengaja menubruk sesosok semam ah, jangan kira kuping gue udak Cuma gue males jawab!" "Kenapa?" Reno tetep serius.
Pertanyaannya berat.
Lo kayak pak Naib yang man ngawinin gue deh Bukannya gitu Gil, gue lihat kavaknva nempel banget sama si Rani Ya..
namaya juga usaha!" Gil nyengir lagi, cuek.
Nggak berarti lo serius khan?" Desakan pertanyaan Reno membuat pandang Gil lurus-lurus terarah padanya Ada apaan muka gile sok serius gitu? ketakutan nggak punya temen yang tetep sihgle fighter seperti dirinya kali.
Lagi- lagi..
Gil nyengar-nyengir cuek.
Serius atau nggaknya tergantung Ren.
Kalo pengen cipokin dia ya serius.
Kalo sambil ketawa-ketawa ya nggak konsen dong.
Tapi yang lo maksud pacaran se rius? nggak tahu juga.
sendiri gue masih generasi tidak mapan.
Bagi gue, pacaran itu hanya untuk selingan dan penawar kejenuhan saja.
Belum kepikiran buat ngajak kawin Rani.
Ia memdekatkan wajahnya ke wajah Rani
He… he!" Terang Gil diakhiri kekehnya.lo tahu Seperti ada kelegaan di wajah Reno begitw mendengar keterangan Gil.
"Oke deh! Kita bicara yang lain saja ya Atau..
jangan ngomong saja deh ya? "Emang mau ngapain?" Rani kura tanggap rupanya.
Gil nyengir.
Ia memdekatkan wajahnya ke wajah Rani.
"Mau ini" Belum sempat menjawab nafas Gil yang panas terhempas begitu dekat seiring bibin cowok itu melumat melumat lembut bibir Rani.
Cewek cantik itu mengimbanginya juga hingga keasyikan mereka semakin terumbar bersama dengan nafas-nafas yang sesekali terhempas.
Rani tak sedikit pun memberi penolakan atau hambatan.
Maka kebebasan untuk Gilang melakukan petualangannya menje- lajahi gunung-gunung yang membuatnya seakan diterbangkan ke awan biru.
Indah sekali membuat Gilang ingin terus dan terus menerbangkan angannya sampai titik akhir Tapi Gilang selalu mampu menguasai, Ketika tinggal selangkah lagi mendobrak benteng pertahanan Rani ia cepet tersadar dan menyudahi semuanya.
Seiring waan nya yang terangkat, sisa-sisa sensasi yang masih terasa membuat dengus nafasnya Rani.
sekali terhempas keras.
Begitu pun dengan Mata gadis itu kuyu dan letih, payah dia.
kian berkecamuk, tentang kebersamaan yang manis dengan Rani.
ka Rani… Panggil Gil lirih.
Lurus ta- tapannya menjelajahi setiap lekuk indah dari wajah nyaris sempurna di depannya itu.
Saat itu mereka tengah berduaan di beranda rumah sederhana milik orangtua Rani.
Sedang di dalam, bapak ibu Rani tengah anteng menonton siaran tele- visi.
Suasana sekitar yang hening mem- berikan nuansa romantis bagi yang tengah berduaan itu.Sedang di dalam, bapak ibu Rani tengah anteng menonton siaran tele- visi.
Ya, sama-sama anteng lah.
Ya?" Wajah manis itu tengadah mem- balas tatapnya.
Kamu cantik!" Gilang mulai meng gombal.
Wajah manis itu tersipu.
Menyi- sakan rona merah dadu yang menyapu tipis dipermukaan wajahnya.
Membuat Gil ma kin gemes.
Duduk Gil semakin merapat mencari ke hangatan dengan bersentuhan.
Di dekap nya tubuh gadis itu seraya terus ajaknya cerita.
Dari soal mata kuliah, dose galak sampai ke pemilihan ketua Senat yang sudah berlangsung Minggu kemarin.
Comments
Post a Comment